
Hal serupa nyatanya kini tengah dirasakan sekali oleh pihak Ericsson. Kabar buruknya ternyata justru berdampak sangat besar kepada 1500 pegawainya yang akhirnya harus di-PHK. Secara global perusahaan pembuat peralatan nirkabel tersebut tadinya memperkerjakan 80.000 pegawai di seluruh dunia.
Penurunan angka penjualan yang cukup besar dalam kuartal keempat dan sepanjang tahun 2009 yang menjadi sebab musabab turunnya keputusan pahit dari Ericsson ini. Bahkan di akhir Desember 2009, angka kemerosotan tersebut menggantung pada angka 92 persen menjadi 43.4 juta USD (434 milyar rupiah), bila dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat penjualan tahunan justru merosot 67 persen dari kuartal tahun lalu.
Sebelumnya pihak Ericsson sudah PHK 5000 pegawainya setahun yang lalu, ditambah dengan 1500 pegawai lagi di tahun ini. Tentu angka yang sangat besar, apalagi mengingat dari setiap pegawai itu, belum terhitung angka dari anggota keluarga yang mereka hidupi dengan pekerjaan tersebut sehingga tentu ini membuat angka pengangguran dunia menjadi lebih tinggi. Dengan mengurangi pegawainya, Ericsson berencana untuk menyimpan dana sekitar 2.2 milyar USD (22 triliyun rupiah) per tahunnya.
Ericsson berharap bahwa CEO barunya, Hans Vestberg dapat membantu mengarahkan untuk memulihkan perusahaan nantinya. Dimana sebelumnya posisi beliau adalah CFO. Lalu selanjutnya menggantikan kepemimpinan CEO Carl-Henric Svanberg di 1 Januari 2010 lalu. Selain itu faktor lain kemerosotan yang dialami oleh Ericsson adalah persaingan ketat yang ternyata akhirnya melempar Ericsson ke jurang kemerosotannya kini.




0 comments
Add your comment