Saat ini, Indonesia diramaikan dengan ajakan untuk melakukan penarikan uang secara besar-besaran pada tanggal 25 November, yang disebut dengan rush money. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkapkan, ramainya aksi kampanye rush money ini beredar luas via jejaring sosial, baik Facebook dan Twitter. Oleh karena itu, mereka pun berusaha untuk meminimalisir dampak yang ada.

rush-money

Seperti dikutip dari Detik, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen Agung Setya mengungkapkan, Polri telah mengantongi sebanyak 70 akun jejaring sosial, baik Facebook dan Twitter yang diketahui sebagai sosok provokator rush money. Agung mengatakan, pihaknya saat ini masih mendalami keberadaan 70 akun tersebut.

Tidak menutup kemungkinan, 70 akun itu dijalankan hanya oleh segelintir orang. Terlebih, kampanye rush money di jejaring sosial, terutama Facebook, memng berjalan sangat masif. Meski memang, kemungkinan kalau aktivitas itu berjalan secara terpisah dilakukan oleh masing-masing akun juga tetap ada.

Kepolisian telah menyiapkan pasal yang bisa dijerat untuk menangkap keberadaan para provokator rush money tersebut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau seorang provokator rush money bisa dihukum pidana. Namun, untuk melangkah ke arah yang lebih mendalam, pihaknya masih ingin melakukan penyelidikan secara mendetail terlebih dulu.

Di era serba digital seperti sekarang, keberadaan jejaring sosial memang berdampak sangat besar terhadap aktivitas di dunia nyata. Tidak heran, kalau penyebaran kampanye rush money bisa beredar dengan cepat. Namun, sebagai seorang pengguna internet yang sehat, tentu kita wajib memilah mana informasi yang berguna dan dibagikan, mana informasi yang seharusnya didiamkan saja sehingga tidak tersebar luas.

(BHK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here