Raksasa chipset Qualcomm telah menerima izin dari Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat, untuk menerbangkan drone dalam radius 0,15 nautical mil laut sekitar Kampus San Diego. Namun izin yang dikeluarkan FAA membatasi drone tebang hanya pada ketingian 200 kaki atau sekitar 61 meter dari tanah.

(Kredit: Ubergizmo)
(Kredit: Ubergizmo)

Seperti yang dilaporkan Ubergizmo, Jumat (8/4/2016), meski dirasa terlalu rendah untuk sebuah drone, namun ketinggian itu dirasa cukup untuk menguji komunikasi drone melalui jaringan komersial dan private. Qualcomm telah memulai penerbangan perdananya sejak 1 April 2016 dan setelah itu perusahaan membutuhkan banyak dokumen untuk setiap penerbangan.

Sebelum mendapatkan izin terbang oleh FAA, teknisi dari Qualcomm harus bisa menerbangkan drone di gedung besar, lab, hangar atau pergi ke daerah terpencil yang jauh dari infrastruktur militer atau bandara komersial. Dengan situasi yang baru tersebut, Qualcomm diharapkan dapat mempercepat pengembangan drone secara komersial, terlebih dalam hal komunikasi

Selain itu, penggunaan jaringan komersial akan sangat dibutuhkan jika sewaktu-waktu drone yang terbang di luar jangkauan Wi-Fi. Drone atau pesawat tanpa awak harus menggunakan menara seluler yang berbeda di sepanjang jalur perjalanan yang dilewati drone.

Adapun kondisi alam yang tidak menentu, seperti kecepatan angin, paparan sinar Matahari atau lebatnya huja juga bisa dimanfaatkan untuk menguji ketangguhan drone, baik dari segi hardware maupun algoritma yang dimiliki drone.

Chipset yang dipakai, Qualcomm menggunakan arsitektur Snapdragon seperti yang saat ini digunakan oleh jajaran smartphone flagship seperti LG G5 dan Samsung Galaxy S7 untuk percontohan drone melalui platfrorm pengembangan drone bernama Qualcomm Snapdragon Flight.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here