Kabar tidak menyenangkan menghampiri produsen chipset ternama, Qualcomm. Perusahaan tersebut dikabarkan tengah terjerat masalah di negeri Ginseng, Korea Selatan. Komisi pengawas perdagangan Korea Selatan saat ini sedang melakukan penyelidikan atas tuduhan yang dilayangkan kepada produsen prosesor mobile itu.

qualcomm_snapdragon

Tuntutan tersebut dilayangkan atas laporan bahwa raksasa Qualcomm melakukan praktik persaingan yang tidak sehat. Tentu bila Qualcomm terbukti berasalah, denda yang harus dibayar tidak tanggung-tanggung, yakni 1 triliun won atau setara dengan Rp11,5 trilun.

Tentu saja ini bukan kali pertama Qualcomm tersandung kasus hukum, pasalnya beberapa tahun yang lalu, FTC (komisi pengawasan perdagangan AS) juga pernah melakukan investigasi atas perusahaan tersebut dengan dugaan monopoli dalam lisensi, di mana keputusan hukum akan diumumkan pada 20 Juli 2016.

Pada tuntutan tersebut, Qualcomm menyalahgunakan lisensi paten mereka, serta membebankan biaya yang tidak wajar kepada dua raksasa elektronik asal Korea Selatan, yakni Samsung dan LG. Qualcomm sendiri mendapatkan penghasilan dari royalti yang diberikan oleh manufaktur smartphone atas penggunaan chipset Snapdragon berdasarkan harga setiap chipset.

Namun nominal kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kasus sebelumnya, di mana Qualcomm harus menghadapi pemerintah China yang melayangkan denda cukup fantastis, yakni US$ 1 miliar, dengan kasus hampir serupa di Korea Selatan. Demikian seperti yang dilaporkan GSM Arena, Selasa (19/07/2016).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here