Tim yang bekerja pada Project Natick (kredit: Softpedia)

Microsoft baru saja mengumumkan rencananya untuk Project Natick, yang merupakan sebuah inisiatif yang sangat inovatif, di mana tujuan utamanya adalah untuk memungkinkan perusahaan membangun sebuah data center di laut (bawah air).

Tim yang bekerja pada Project Natick (kredit: Softpedia)
Tim yang bekerja pada Project Natick (kredit: Softpedia)

Perusahaan yang berbasis di Redmond itu mengatakan akan membuat sebuah kapsul yang dapat host server dan bermanfaat bagi konsumen serta perusahaan itu sendiri, karena dapat memberikan layanan yang lebih cepat dari sebelumnya. Sementara di saat yang sama juga akan menekan biaya menjadi sangat rendah dan menawarkan penyediaan cepat.

Seperti yang diwartakan Softpedia, Senin (1/2/2016), Microsoft mengatakan bahwa mereka telah memulai proyek penelitian dengan prototipe data center yang disebut Leona Philpot (sebagai karakter Halo). prototipe ini dipasang di dasar laut sekitar satu kilometer di lepas pantai Pasifik dari Amerika Serikat dan bekerja dari bulan Agustus hingga November 2015.

“Latency adalah waktu yang diperlukan data untuk perjalanan antara sumber dan tujuan. Setengah dari populasi dunia tinggal dalam jarak 200 km dari laut sehingga menempatkan data centar di lepas pantai meningkatkan kedekatan data center kepada penduduk secara dramatis mengurangi latency dan memberikan respon yang lebih baik. ” kata juru bicara Microsoft.

Pertanyaannya, apakah data center di dalam laut dapat merusak lingkungan? Menurut Microsoft itu tidak sama sekali, dan percobaan yang telah berlangsung tahun lalu secara khusus difokuskan pada penentuan kerusakan yang disebabkan sebuah bangunan bawah air tersebut kepada fauna bawah laut.

Selain itu, semua data center sepenuhnya dapat didaur ulang dan menghasilkan emisi nol, tanpa menggunakan air untuk pendinginan atau untuk tujuan lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here