Menyaksikan sejumlah drone yang berterbangan di udara adalah suatu hal yang biasa, namun bagaimana apabila menyaksikan sejumlah drone yang berterbangan melakukan atraksi manuver udara jarak dekat  secara teratur beriringan tanpa bertabrakan sedikitpun tentunya suatu hal yang luar biasa.

drone otonom 00
Terkait hal ini, para peneliti di Institut Teknologi Georgia (Georgia Tech Institute) kabarnya telah menemukan cara untuk menghindari sejumlah drone yang berterbangan¬† tidak saling bertabrakan satu sama lain adalah dengan menciptakan area bumper virtual di sekitar masing-masing quadcopter yang membuatnya tidak akan saling bersentuan satu dengan yang lain. Mereka juga memastikan kalau setiap quadcopter yang ada memiliki sedikit “top hat” dari ruang di atasnya sehingga tidak akan berada di bawah drone yang lain dan terjebak dalam lintasan yang ada.

Mahasiswa Ph.D. Li Wang menyiasati top hat yang ada harus setinggi lima kali diameter dari satu rotor ke yang lain dengan menerbangkan pesawat tanpa awak di atas satu sama lain. Ruang vertikal 0,6 meter memastikan quadcopters menghindari saling memotong satu sama lain. Seset algoritma memberi kemampuan pada drone untuk bermanuver dengan cepat saat drone mendeteksi drone yang lain berada di sebelah atau di atasnya.

Untuk pengoperasian pada sekawanan pesawat tanpa awak berdengung yang berterbangan dalam jumlah yang lebih banyak di mana-mana, memerlukan sistem seperti ini untuk mencegah terjadinya saling bertabrakan satu dengan yang lain. Dan Magnus Egerstedt yang menjabat sebagai Direktur Georgia Tech Institute Untuk Permesinan Robot dan Kecerdasan juga turut menegaskan, karena pada dasarnya tidak akan mungkin satu orang mengendalikan puluhan atau ratusan drone sekaligus, maka untuk itulah sangat dibutuhkan mesin yang bisa mengatasi masalahnya sendiri (otonom).

Sementara itu, tim lain di laboratorium kabarnya juga menemukan cara pesawat udara sejenis Zeppelins otonom yang dapat mendeteksi dan bereaksi terhadap ekspresi wajah dan isyarat tangan manusia dalam sebuah proyek untuk menemukan cara yang lebih baik agar membuat orang berinteraksi dengan pesawat tak berawak. Zeppelins yang bergerak lamban lebih mudah didekati, dan menurut para periset, suatu hari nanti mungkin zeppelins tersebut akan ditempatkan untuk sistem penyambutan toko atau kios informasi.

Bayangkan sebuah balon udara menyapa orang-orang di depan toko peralatan dan siap menawarkan bantuan, ungkap pimpinan proyek Fumin Zhang. Orang baik saja bisa membaca ekspresi wajah dan perasaan orang yang sedang membutuhkan pertolongan atau tidak. Dan suatu hari kelak hal tersebut siapa tahu juga bisa dilakukan oleh robot berbentuk zeppelin ini. Ya kita lihat saja nanti!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here