Dalam sejarah bermain game, setiap judul yang dirilis di pasaran pasti memiliki nilai yang berbeda bagi masing-masing individu. Sudah sewajarnya bila sebuah game yang baru dirilis namun sudah terdapat banyak bug yang mengganggu mendapatkan kritikan pedas dari para gamer. Bahkan kritikan tersebut dapat membuat game menjadi lebih baik agar dapat dimainkan dengan nyaman.

digital-homicide

Namun ternyata hal tersebut malah tidak bisa diterima oleh salah satu pengembang game indie, Digital Homicide. Seperti yang dilansir dari VG247, Senin (19/9/2016), pengembang game ini disebut telah menggugat lebih dari 100 pengguna Steam yang memberikan komentar atau kritikan pedas pada game buatan mereka. Tidak tanggung-tanggung, tuntutan yang dilayangkan pun senilai 18 juta USD atau sekitar 236 miliar Rupiah.

Menurut pihak Digital Homicide bukanlah kritikan atau komentar yang membangun, namun berupa pencemaran nama baik, perusakkan hak milik, serta masih ada yang lainnya. Demi melindungi para konsumen, akhirnya Valve pun mengambil tindakan tegas dengan menendang semua game buatan Digital Homicide dari halaman Steam. Bahkan nama pengembang tersebut sudah tidak masuk dalam daftar kerjasama Steam.

Juru bicara Valve mengatakan bahwa mereka sudah tidak menjalin kerja sama lagi dengan Digtal Homicide. Hal tersebut lantaran sang pengembang malah menciptakan suasana permusuhan dengan para konsumen.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Digital Homicide justru melakukan langkah berani yang mungkin tidak mungkin dilakukan oleh para pengembang ternama, yakni menuntut balik Valve selaku pengembang Steam. Digital Homicide menyebut bahwa Valve mendukung gamer atau konsumen untuk menyerang pengembang game.

Hingga kini masih belum ada kabar lebih lanjut mengenai kasus ini, namun yang namanya sebuah produk pastinya tidak semua individu menikmati, karena memiliki selera yang berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here